Jenis Pelanggaran

3 Jenis Pelanggaran Aturan Berlalu Lintas Bahaya Yang Sering Dilakukan Pemotor

Ada beberapa jenis pelanggaran yang kerap sekali dilakukan oleh pengendara motor. Pelanggaran tersebut tentunya dapat membahayakan pengendara itu sendiri, maupun kepada pengendara lain.

Aturan berlalu lintas dibuat demi keselamatan pengendara dan tentunya, untuk menjaga ketertiban jalan raya. Jika banyak pelanggaran berlalu lintas yang dilakukan, maka dipastikan jalanan akan semerawut dan berpotensi terjadinya kecelakaan.

Setidaknya ada 3 jenis pelanggaran fatal yang kerap dilakukan oleh pemotor yang utamanya sering terjadi di ruas jalan kota besar.

Jenis Pelanggaran

Tidak menggunakan helm

Menggunakan helm sangat diwajibkan bagi pengendara sepeda motor. Helm berfungsi sebagai pelindung bagian kepala dari pengendara motor dan dapat meminimalisir potensi risiko cedera kepala dan leher pengendara saat terjadi kecelakaan.

Kewajiban menggunakan helm standar nasional Indonesia bagi pengendara sepeda motor diatur dalam Pasal 57 ayat (1) jo ayat (2) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU No. 22/2009”) yang berbunyi :

  1. Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan wajib dilengkapi dengan perlengkapan Kendaraan Bermotor.
  2. Perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Sepeda Motor berupa helm standar nasional Indonesia.

Selain itu, Pasal 106 ayat (8) UU No. 22/2009 mengatur bahwa:

“Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda Motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia.”

Jadi, berdasarkan ketentuan di atas pengendara motor baik pengemudi maupun penumpang diwajibkan menggunakan helm dengan standar nasional Indonesia. Apabila melanggar, ancaman atas pelanggaran tersebut diatur dalam Pasal 291 UU No. 22/2009 yang berbunyi :

  1. Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
  2. Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Adapun helm dengan standar nasional Indonesia sesuai UU No. 22/1009 dapat diketahui dari adanya tanda SNI pada helm. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 3 huruf b Peraturan Menteri Perindustrian No. 40/M-IND/PER/6/2008 Tahun 2008 Tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua Secara Wajib.

Jenis Pelanggaran

Melawan arus

Melawan arus lalu lintas jalan tentunya sangat berbahaya sekali Sob. Alih-alih malas berputar jalan yang jauh dan ingin menyingkat waktu, melawan arus bisa menyebabkan kecelakaan yang sangat fatal.

Oleh sebab itu, seseorang yang melawan arus merupakan tindakan yang melanggar lalu lintas serta tidak menghiraukan bahaya yang timbul. Karena sudah jelas dituangkan didalampasal 106 ayat ayat (4) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan  yang mengatur mengenai ketentuan yang wajib dipatuhi pengendara motor yakni berbunyi :

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan:”

  1. rambu perintah atau rambu larangan;
  2. Marka Jalan;
  3. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas;
  4. gerakan Lalu Lintas;
  5. berhenti dan Parkir;

Jadi mengenai sanksi pengendara bermotor yang melanggar ketentuan pasal 106 ayat (4) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah sangat dijelaskan didalam pasal 287 ayat (1) Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyatakan bahwa :

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf a atau Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

Jenis Pelanggaran

Tidak menyalakan lampu di siang hari

Salah satu fungsi menyalakan lampu di siang hari adalah, agar pengendara mobil atau motor yang melihat spion hanya dalam waktu singkat bisa mendeteksi atau menyadari kendaraan lain dari pantulan lampu utama.

Jika Anda tidak menyalakan lampu utama di siang hari, maka itu telah melanggar Pasal 293 ayat (2) jo Pasal 107 ayat (2) UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ, yang berbunyi; Pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu utama pada siang hari didenda dengan denda maksimal Rp 100.000,-

Pada dasarnya aturan ini bukan salah satu yang dipastikan Sobat Zonbie akan aman selama berkendara. Hanya, aturan ini dapat meminimalisir resiko kecelakaan sepeda motor yang tidak terlihat menjadi lebih kecil dan akhirnya diharapkan mampu menekan angka kecelakaan sepeda motor.

Dengan Mengetahui bahaya dan pasal yang mengatur pelanggaran tersebut, diharapkan Sobat Zonbie tidak melakukannya. Tetap jadi pelopor keselamatan berkendara di jalan ya Sob.

Comments
Shares