Foggy-Petronas FP1, Superbike Ambisius Yang Tak Berujung Manis

Melanjutkan artikel sebelumnya soal Foggy-Petronas FP1, Zonbie ajak bernostalgia sejenak ke tahun 2003 nih Sob. Di mana superbike Foggy-Petronas FP1 hadir. Di masa itu, brand otomotif Malaysia lagi gencar-gencarnya ikutan balap dunia.

Selain Petronas yang ngebet masuk WSBK, ada brand lain yakni Modenas dan Proton yang menggandeng pebalap kawakan Kenny Robert Sr. untuk turun di MotoGP.

Foggy-Petronas FP1 pengembangannya pun nggak main-main Sob. Petronas yang waktu itu menjadi sponsor tim Formula 1 Sauber menggandeng insinyur mereka untuk development motor ini.

Hasilnya, prototipe berjuluk Petronas GP1 yang punya mesin 989 cc sukses dikembangkan. Tujuan awalnya untuk turun di MotoGP. Namun Petronas menyatakan untuk turun di ajang World Superbike (WSBK) lebih dulu.

Untuk itu, proyek 150 unit motor produksi massal sebagai syarat lolos homologasi WSBK disiapkan.

Karena peraturan WSBK dari FIM mengenai volume mesin berbeda dari MotoGP (saat itu masih 990 cc). Yakni volume maksimal 750 cc di tipe 4-silinder, 900 cc 3-silinder dan 1.000 cc 2-silinder, maka Petronas mengembangkan lagi mesin 3-silinder segaris berkubikasi 899,5 cc.

Mesin tersebut menghasilkan tenaga 127,4 dk per 10.000 rpm dan torsi 92 Nm di 9.700 rpm. Ditunjang dengan bobot 181 kg, serta bodywork yang aerodinamikanya dikembangkan di fasilitas Sauber, Inggris motor ini terdengar digdaya.

Apalagi, legenda balap WSBK yang identik dengan nama Ducati, yaitu Carl Forgatty, alias Foggy dibajak sebagai kepala tim di WSBK, dengan pebalap, Troy Corser dan James Haydon.

Sayangnya, begitu FIM mengumumkan jika semua tipe mesin boleh bervolume 1.000 cc, maka Foggy-Petronas FP1 seolah tak punya daya saing.

Tapi begitu diumumkan One Make Tyre dari Pirelli pada 2004 yang diikuti hengkangnya pabrikan asal Jepang, Foggy-Petronas FP1 praktis hanya melawan pabrikan Ducati. Hasilnya, Chris Walker sukses podium 3 di seri pembuka, Valencia dan Troy Corser juga meraih podium dua di San Marino dan posisi 4 di Jerman.

Setelah berjuang hingga 2006, tanpa mendapat kesuksesan seperti yang diimpikan, akhirnya tim dan pabrikan asal Malaysia tersebut ucapkan perpisahan pada WSBK. Pun begitu dengan proyek superbike yang pernah dikembangkan. Tak lagi memiliki kejelasan sebagai raja jalanan pertama asal Asia Tenggara.

Comments
Shares