Hadapi Tahun Politik 2019, Perhumas Fokus Dengan Strategi Khusus

Jelang pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan berlangsung pada April 2019 mendatang, suasana perbincangan politik antar pendukung terhadap para calon yang akan dikemukakan di Pemilu 2019 pun semakin memanas. Hal inilah yang disampaikan dan diprediksi para pembicara di acara Coffee Morning dan Halal Bihalal Perhumas yang mengusung tema “Public Relation Dalam Tahun Politik” yang berlangsung di Financial Club Jakarta, (13/7).

Dihadiri puluhan anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), diskusi yang didukung oleh perusahaan pembiayaan terbesar di Tanah Air yakni PT Federal International Finance atau FIFGROUP ini, menampilkan tiga pembicara, yaitu Dr. Virsan Nova selaku Managing Director of Nexus Mitigationand Strategic Communications, Brigjen Pol. Rikwanto selaku Karo Multimedia Divisi Humas Polri dan Arif Zulkifli Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

Ketiga pembicara menyebutkan bahwa Pemilu 2019 tidak lepas dari unsur era digitalisasi khususnya peran sosial media (sosmed). Bahkan, sosmed dijadikan peran penting sebagai dukungan calon yang sedang akan diusung di pemilihan umum tahun depan. Namun, ketiganya juga menyarankan agar masyarakat lebih bijak menggunakan sarana sosial media agar tidak menimbulkan berita yang tidak benar atau HOAX!

“Untuk menyikapi konten-konten negatif yang ada di media elektronik atau sosmed mesti ada aturan yang berlaku seperti hak jawab sebagai bantahan terhadap berita negatif tersebut. Atau kalau perlu kasih stempel ‘HOAX!’, jadi masyarakat tahu kalau berita itu tidak benar,” kata Rikwanto.

Menanggapi peran Perhumas di tahun politik, Ketua Umum Perhumas Agung Laksamana, M.Sc, IAPR mengatakan, meski suasana politikk jelang Pemilu 2019 makin memanas, namun Perhumas terus melihat peta situasi ke depan seperti apa, karena itu akan berdampak pada peran kunci humas dan kampanye-kampanye ke depan.

“Jadi, jangan sampai program-program humas tergerus dengan berita-berita politik terlebih berita HOAX, sehingga kita antisipasi bagaimana humas bisa melihat kampanye yang lebih obyektif saat ini. Tak hanya itu, humas bisa segmentasi pasar dengan menjual brand-brand yang ada,” tambah Agung.

Comments
Shares