Jangan Anggap Sepele Masalah Busi, Atau Hal Mengerikan Ini Akan Terjadi

Busi dalam ruang bakar

Perlu diperhatikan kecocokan tipe busi dengan kendaraan jadi faktor utama, jangan sampai kendaraan salah pasang tipe. Hal ini berlaku untuk kendaraan roda dua dan empat.

Ada baiknya, lakukan pengecekan spesifikasi kendaraan sebelum melakukan penggantian agar tak salah pilih. Perlu diketahui pula usia pakainya, karena penggantian dan penggunaan yang tepat akan membuat kinerja mesin tetap optimal.

Bila perlu, konsultasikan dengan mekanik kepercayaan Anda atau kunjungi website produsen komponen pemercik bunga api tersebut guna mendapatkan informasi yang akurat.

Loading...


Baca Juga :

Cek Warna Elektroda Busi, Kamu Akan Tau Kondisi Mesin Motor Mu

Fitur Unik NGK Untuk Motor Matik Premium Honda dan Yamaha X-Max

Loading...


Penggantian komponen tersebut umumnya dilakukan setiap 6,000 km untuk sepeda motor dan 20,000 km untuk mobil.

“Biasanya NGK merekomendasikan, setiap 6,000 km busi standar nickel motor sebaiknya diganti dan 20,000 km untuk mobil,” terang Diko Oktaviano, Aftermarket Technical Support & Product Development PT NGK Busi Indonesia.

Diko juga menjelaskan bawah gaya berkendara dan perawatan rutin kendaraan punya pengaruh besar pada usia pakai busi dan performa mesin kendaraan. Semakin baik gaya berkendara dan rutin melakukan perawatan berkala, maka kinerja busi dan mesin akan selalu optimal.

Loading...


Baca Juga :

Sejarah Honda PCX di Indonesia, Dimulai Dari Mesin 125 cc

All New CBR150R 2021 Segera Meluncur Mirip CBR250RR, Siap Goda Pengguna R15

Loading...


“Gaya berkendara kita juga jadi penyebab munculnya carbon foul. Karena busi tidak dalam kondisi temperatur kerja yang diharuskan. Makanya bawa kendaraan jangan melulu lambat dan jangan melulu telalu cepat agar fitur self cleaning bisa aktif,” kata Diko.

NGK Busi

Suhu Ideal Busi

Fitur self cleaning akan bekerja pada temperatur ideal berkisar saat kecepatan motor berada di kecepatan antara 40 sampai dengan 60 km/h. Bila berada di bawah itu maka busi tidak akan cukup untuk membakar endapan karbon yang dihasilkan oleh pembakaran.

Loading...


Karbon yang tak terbakar tersebut akan melekat pada permukaan insolator. Akibatnya akan menurunkan daya tahanan tegangan.

Ukuran daya tahanan tegangan bisa diketahui ketika tahanan berada pada 10 Mega Ohm. Pada tahanan itu maka mesin bisa bekerja secara normal. Tapi sebaliknya ketika resistansi tegangan drop sampai dengan 0 Mega Ohm, bisa dipastikan busi mengalami gangguan.

Jika hal itu terjadi, tegangan tinggi yang diberikan ke elektroda tengah akan menuju ke massa tanpa meloncat dalam bentuk bunga api pada celah elektroda. Kondisi ini bisa disebut kesalahan pembakaran atau misfiring.

Loading...


Bila suhu elektroda sangat tinggi, maka busi akan mengalami percepatan pengikisan elektroda atau keausan elektroda.

Kondisi ini biasa disebut dengan overheat yang bisa mengakibatkan kerusakan permanen di elektroda pusat ataupun elektroda ground.

“Di NGK sendiri untuk menentukan tingkat panas busi menggunakan alat yang disebut thermo-couple. Alat ini terhubung dengan poto transducer. Dari hasil pengukuran ini sebenarnya bisa diketahui angkanya, tapi ini tak bisa jadi patokan sebab angkanya akan berbeda pada tiap tipe mesin,” urai Diko.

Loading...


Overheat juga bisa disebatkan oleh faktor external seperti pemakaian bahan bakar yang tak sesuai dengan rasio AFR-nya. Atau penambahan zat additive di bahan bakar yang berlebihan.

Jika suhu ruang bakar sudah sangat tinggi, maka proses pembakaran campuran udara dan bensin bukan lagi diakibatkan oleh bunga api tapi oleh panas elektroda. Kondisi ini disebut pre-ignition atau pembakaran sebelum busi memercikan bunga api.

Kondisi ini harus diwaspadai. Pasalnya, selain berujung pada kerusakan permanen di bagian elektrodanya. Jadi selain membuat kinerja mesin tak optimal akibat sisa-sisa debris pengikisan elektroda.

Loading...


Debris itulah yang akan jadi sumber api baru di ruang bakar sehingga bisa menimbulkan knocking mesin.

Kondisi terparah dan paling bahaya, elektrodanya lepas atau patah sehingga bisa terhantam dorongan piston. Selain itu, panas berlebih tersebut bisa merusak piston bahkan bisa membuat lumer. Mengerikan, yahh..!!

Loading...


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here