#PiknikBro ke Green Kenyot, Green Canyon Di Bandung Barat

PiknikBro Green Kenyot

Merekam keunikan lanskap wajah sesungguhnya dari tempat dimana kita berpijak kini nyaris tak pernah terlupa. Kapan pun kita melihat sesuatu yang unik, otak langsung membuat perintah ke jemari tangan untuk menekan tombol pembakar memori di dalam ruang persegi, kemudian menyebarkannya melalui medium yang kita sebut sebagai Media Sosial.

Kita bisa melihat jutaan foto keren dari tiap sudut wilayah Indonesia yang kerap digambarkan sebagai untaian permata karena keindahannya. Salah satu keunikan yang tim #PiknikBro temukan adalah aliran sungai Cikahuripan di wilayah Bandung Barat. Orang-orang menamakan tempat ini dengan sebutan Green Kenyot dan menjulukinya sebagai Green Canyon nya Bandung. Tak sulit untuk menemukan lokasi ini. Green Kenyot berada di situs purba aliran sungai Citarum.

Loading...


Dulunya, sungai itu adalah aliran sungai Citarum. Sejak ada bendungan atau waduk Saguling, debit air jadi tak setinggi dulu yang bisa mencapai lebih dari 10 meter. Tapi saat musim hujan, debit air di waduk Saguling akan berlebih dan tumpahan airnya akan dialirkan ke sungai Citarum Purba. Jika sudah demikian, ketinggian airnya bisa mencapai lebih dari 30 meter.

Sungai yang mengalir diantara bebatuan cadas dan tebing yang eksotis ini memiliki kedalaman bervariasi, mulai dari setinggi mata kaki orang dewasa hingga lebih dari 6 meter dalamnya. Sobat Zonbie bisa memilih titik mana yang kamu suka untuk berbasah-basahan ria bersama sahabat petualang.

Loading...


Pertemuan Buaya dan Tempat Mandi Sangkuriang

Yang menarik, dibalik eksotisme tebing berbatu dan aliran air di celah wadas tersimpan mitos yang dipercaya warga sekitar bahwa sungai Citarum Purba adalah tempat pertemuan para buaya. Pertemuan itu terjadi di percabangan aliran sungai Cikahuripan menuju sungai Sanghyang Heuleut dan Sanghyang Tikoro. Sayangnya, tak ada informasi lebih jauh tentang mitos tersebut. Entah karena warga benar-benar tak tau kisah lengkapnya atau mereka sengaja menguburnya dalam-dalam untuk alasan tertentu. Tapi yang pasti, kamu bisa menemukan tanda yang dijadikan bukti pertemuan buaya itu di sungai Sanghyang Heuleut berupa jejak tapak kaki buaya di sebuah batu. Untuk melihatnya, kamu harus berjalan kaki sekitar 2 jam dari Citarum Purba.

Loading...


Mitos lain yang dipercaya warga sekitar adalah, sungai itu berkaitan dengan legenda dari Jawa Barat, Sangkuriang, dimana sungai itu merupakan tempat pemandian Sangkuriang. Diceritakan warga, saat malam aura kehadiran Sangkuriang terasa sangat kuat. Dulu mitosnya, siapa pun tak boleh pakai baju merah selama ada di aliran sungai tersebut karena dianggap menantang Sangkuriang. “Kalau pakai baju merah, tubuh mu akan terasa berat seperti ada yang menunggangi. Kalau mandi, air yang tenang tiba-tiba beriak seperti ombak kecil dan air yang keluar dari tebing-tebing bebatuan akan keluar lebih besar seolah mau menerkam,” cerita Pak Ade, orang yang dipercaya penjaga dan memantau kawasan sungai Kahuripan.

Tapi itu dulu. Sekarang, warga sekitar bilang aura itu sudah tak seperti yang diceritakan, kekuatan itu terasa berkurang. Tim #PiknikBro mencoba turun ke kawasan sungai itu di malam hari dengan ditemani oleh penjaga lainnya bernama Pak Nanang. Benar saja, tak ada aura mistis yang kuat walau rasa takut sedikit mengganggu perasaan. Ditemani temaram cahaya bulan, kami menyusuri jalan kecil berbatu sejauh 600 dari tempat parkir kendaraan.

Loading...


Mata Air Tiga Rasa dan Curug Cukang Rahong

Selain sungai, di situ ada tiga mata air yang punya rasa berbeda yakni tawar, manis dan agak pahit. Sumber air itu disebut dengan Mata Air Ibu dengan rasa airnya yang manis, Mata Air Bapak dengan rasa air agak pahit dan Mata Air Sumur dengan rasa layaknya air mineral yang sering kita minum.

Tim #PiknikBro tak menemukan cerita dibalik penamaan mata air tersebut dari Pak Nanang. Akhirnya Tim hanya meminum airnya saja.

Loading...


Dari ketiga mata air itu, mata air sumur punya tingkah unik. Air yang keluar dari tengah-tengah batu besar itu setiap malam tak setenang di siang hari, sehingga mengeluarkan banyak buih. Uniknya lagi, tiap hitungan bulan datangnya masa menstruasi wanita, air akan berwarna merah. Meski demikian, airnya masih aman untuk diminum.

Mitosnya, kalau mandi di sana akan enteng jodoh. Tapi kalau kamu beruntung, Pasalnya tempat itu dipercaya warga sebagai tempat dewa-dewi dari kayangan menjalani hukuman.

Loading...


Sangat disayangkan, dua mata air yang sebelumnya keluar seperti pancuran kini tak seperti itu lagi. Air hanya mengalir di dinding tebing karena alirannya rusak oleh warga luar yang mencari batu akik. Akhirnya warga sekitar mengakalinya dengan memasang pipa agar alirannya seperti air mancur.

Di situ juga ada curug Cukang Rahong. Sebuah curug dengan aliran air membentuk barisan sekitar dua meter.

Loading...


Oh iya, suasana di pagi hari cukup terik sehingga air pun terasa hangat. Kalau malam, saat cuaca cerah pemandangannya sangat keren, kamu bisa menikmati pemandangan langin dengan taburan bintang di atas Bumi Jawa Barat.

Untuk masuk ke kawasan sungai Citarum Purba, kamu cukup membayar uang sebesar Rp 10.000 untuk parkir kendaraan dan Rp 15.000 per orang sebagai dana perawatan kawasan.

Yang perlu dicatat, tanpa didampingi warga setempat kamu tidak boleh ada di aliran sungai sendirian. Bukan masalah mistis, tapi lebih kepada urusan keselamatan mengingat sewaktu-waktu air waduk Saguling bisa ditumpahkan ke aliran sungai itu. Memang ada sirine peringatan jika waduk dibuka, tapi tetap saja harus ada yang menemani mengingat lokasi itu masih sangat sepi dan belum banyak orang yang mengetahui tempat itu.

Loading...


Perlu diketahui, di area sungai Citarum Purba tak ada toilet umum. Toilet hanya ada di tempat parkir kendaraan yang jaraknya sekitar 600 meter. Untuk rute, akan Zonbie bahas di artikel selanjutnya. [Harri Sandi P]