#PiknikBro Tour de Andalas : Menikmati Malam Di Taman Nasional Gunung Kerinci

Usai bercumbu dengan hangatnya matahari pantai Way Hawang, perjalanan #PiknikBro Tour de Andalas saya lanjutkan ke Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) melintasi jalan di sepanjang pesisir pantai.

Setibanya di Bengkulu, saya berusaha menyatu dengan kearifan lokal kota tersebut. Tak butuh waktu lama, saya langsung ikut bercengkrama dengan warga karena kebetulan setibanya di Bengkulu bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri. Saya singgah sejenak di rumah Pak Ruslan untuk bersiap menjalankan ibadah sholat ied.

Ada tradisi berlebaran yang luarbiasa dimana semangat kekeluargaan terjalin bergitu kuat antar warga bahkan antar desa. Yaitu tradisi bersilaturahmi dari pintu ke pintu, dan pergi ke desa-desa lain bersama. Semua itu dilakukan di hari pertama lebaran. Hari kedua lebaran mereka gunakan untuk berkumpul bersama keluarga besar dan hari berikutnya untuk teman jauh atau sanak saudara lainnya serta untuk berlibur bersama keluarga.

Sayangnya, waktu membatasi saya untuk ikut dalam silaturahmi tersebut. Usai sholat ied dan bersilaturrahmi dengan keluarga Pak Ruslan juga tetangganya, saya melanjutkan perjalanan ke TNKS.

Saya mengarahkan laju motor ke perbatasan Bengkulu-Padang melalui kota Tapan kemudian ke arah kota Sungai Penuh di Jambi. Kota itu sangat ramai, jalanan yang tidak terlalu lebar dengan kepadatan penduduknya membuat saya harus ekstra hati-hati. Setelah sekitar 98 km saya bergerak, saya disambut pemandangan perbukitan yang berjajar dengan rapih. Saya harus melewati bukit barisan menuju Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat.

Taman Nasional Kerinci Seblat adalah taman nasional terbesar di Sumatera, Indonesia. Taman ini merupakan gabungan beberapa kawasan cagar alam Kerinci seperti Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan-Bukit Kayu Embun dan Gedang Seblat. Taman nasional ini terletak pada koordinat antara 100°31’18″E – 102°44’01″E dan 1°07’13″S – 1°26’14″S. Lokasi ini pun jadi salah satu daftar dari situs warisan dunia oleh UNESCO.

Jalan berkelok diantara hutan kembali saya rasakan. Kali ini udara terasa lebih dingin, kabut dan gerimis menjadi teman perjalanan. Perjalanan saya sedikit terhambat dengan longsoran tanah merah yang menutupi jalan setinggi mata kaki orang dewasa. Tempat ini memang rawan longsor karena tanah lembab dan hujan yang sering terjadi. Selama perjalanan, saya banyak menemukan papan peringatan waspada longsor. Pemerintah setempat tengah memperbaiki kondisi jalan dengan pemasangan dinding.

Semakin tinggi lokasi saya berpijak, semakin tebal kabutnya. Jarak pandang pun semakin terbatas. Perlu diketahui, di Taman Nasional Kerinci masih banyak hewan liar berkeliaran, termasuk Harimau Sumatera. Dijelaskan penjaga kawasan Taman Nasional Kerinci, satwa liar yang ada di sana ada badak, gajah, macan dahan, kucing emas, beruang madu, tapir, kambing hutan, primata, reptil dan lainnya. Ada lebih dari 300 species burung dan tanaman langka seperti bunga bangkai dan bunga titan arum, bunga tertinggi di dunia. Untuk melihat tanaman langka ini harus berjalanan menyusuri Taman Nasional selama 2 jam perjalanan.

Saya memutuskan untuk bermalam di pos jaga Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat ini. Sepanjang sore sampai malam, gerimis membasahi kawasan tersebut.

Malam tiba, suasana jadi lebih mencekam. Suara jangkrik dan burung hantu terdengar sangat jelas seolah mereka bernyanyi di dekat telinga saya. Sekitar pukul 9 malam, saya ikut berkeliling bersama penjaga pos TNGK untuk berjaga di sekitaran taman nasional. Tak disarankan berkeliling di malam hari tanpa kawalan penjaga TMGK, karena banyak satwa liar yang mencari makan di malam hari.

Sayangnya, keberadaan satwa liar terancam punah. Pembalakan liar, perburuan, alih fungsi lahan, transmigrasi, penambangan emas jadi penyebabnya. Perburuan hewan liar menjadi ancaman serius bagi Kerinci Seblat. Harimau Sumatera sejak dulu menjadi target perburuan liar, hingga statusnya kini terancam punah. Kini, selain harimau perburuan liar menambah target baru yakni burung Rangkong Gading untuk diambil paruhnya dan dijual ke luar negeri. Dalam setahun terakhir ratusan burung rangkong telah hilang ditembak para pemburu.

Malam semakin larut, tidak terasa sudah lebih dari 4 jam saya berkeliling menyusuri area piket bersama perugas jaga taman nasional. Kunang-kunang penghias hutan tropis mengawal perjalanan saya menuju pos jaga. Sambil merebahkan tubuh, saya berharap besok bisa melihat melihat indahnya Gunung Kerinci dari kejauhan. (Harri Sandi Prayoga)

PiknikBro Gunung Kerinci

Comments