Tuesday, October 20, 2020

Qudwah Handayani, Cinta Pertama Pada Vespa Super 1977

Pada dasarnya, kebanyakan penunggang Vespa klasik adalah laki-laki. Karena, skuter lawas buatan Italia tersebut butuh tenaga ekstra untuk mengendarainya. Dari bobotnya saja, Vespa klasik beda dengan sepeda motor atau skuter Jepang, karena seluruh bodi Vespa terbuat dari plat besi. Belum lagi pengoperasian gigi persneling manual yang menggunakan tangan kiri.

Hal yang tidak biasa justru ditunjukkan Qudwah Handayani. Tak mau kalah dengan pria, gadis berhijab ini sudah terbiasa mengendarai Vespa Super keluaran tahun 1977. Bahkan Vespa lawas kesayangannya ini kerap menemani perjalanannya sehari-hari.

Ladies yang akrab disapa Wawa ini pun mulai bercerita soal ketertarikannya dengan Vespa. Wawa mengaku mulai kenal Vespa sejak berusia 15 tahun, itu pun diajak teman-temannya.Hingga akhirnya, di tahun 2013 silam, setelah jatuh cinta pada pandangan pertama, Wawa pun memutuskan membeli Vespa Super 1977 yang diberi nama Domi.

Dengan setia, Domi menemani wanita kelahiran Jakarta, 12 April 1996 ini menuju kampusnya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Meski Domi sudah tidak muda lagi, namun Qudwah tetap bangga mengendarainya, terlebih ketika disapa oeh sesama pengguna Vespa lainnya. “Sejak Domi menemani, aku jadi semakin banyak teman dan saudara,” ujarnya.

Qudwah memang tidak ikut dalam sebuah komunitas Vespa, namun Ia aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan komunitas skuter 2-tak tersebut. Baginya, untuk berteman dan bersaudara tidak mesti ikut komunitasnya, yang terpenting selalu menjaga silaturahmi antar sesama.

Kebanggaan mengendarai Domi tidak selamanya berjalan mulus. Ada saja hambatan yang mencoba Qudwah untuk menjauhi Domi. Salah satunya adalah Sang Ibunda, yang sempat menolak jika dirinya mengendarai Domi. Namun Wawa terus meyakinkan ibunya bahwa Ia dan Domi akan baik-baik saja.

Ini dibuktikan Wawa dengan mengatasi sendiri masalah apa pun yang akan menimpa Domi. “Sebisa mungkin saya meyakinkan Ibu. Jika ada masalah dengan Domi, aku berusaha mengatasi sendiri begitu juga untuk operasional sehari-hari seperti bensin, oli samping sebisa mungkin aku tidak minta bantuan finansial dari orang tua,” tegas Wawa.

Qudwah yang saat ini sebagai guru magang di SMKN 4 Jakarta, kerap ngopi dan kongkow bareng teman-temannya sesama skuteris di Harapan Indah Bekasi. Di kampus pun ia kadang nongkrong bareng dengan komunitas Scooter Pendidikan UNJ.

”Vespa telah membuka sudut pandang saya tentang solidaritas yang tidak membeda-bedakan suku, ras, agama dan golongan. Ini membuat saya nyaman berada di lingkungan para pengguna dan pecinta Vespa ,” pungkasnya. (Reza Agis)

 

Latest Update

Paladyne E1000MP, Pistol Pengacau Drone Nakal

Drone Defence hadirkan Paladyne E1000MP, sebuah pistol pengacau drone yang akan mengamankan aset Sobat Zonbie dari gangguan drone nakal yang dimanfaatkan oleh orang yang...

Touring Generasi 125, Nikmati Keindahan Alam Gunung Telmoyo

Para bikers yang terdiri dari media, blogger, vlogger dan konsumen muda bergabung dalam turing Generasi 125 mengeksplorasi keindahan wisata Gunung Telomoyo. Didukung keunggulan motor berkapasitas...

Konsol Game Duo, Tampilan Klasik Tapi Canggih

Konsol game saat ini sudah semakin canggih dan punya tampilan yang futuristik. Namun konsol game Duo hadir dengan tampilan retro namun tetap mengusung teknologi...

Faktor Penyebab Penyakit Parkinson Yang Perlu Sobat Ketahui

Penyakit Parkinson memiliki kaitan yang erat dengan kerusakan atau kematian sel saraf di bagian otak yang disebut susbstantia nigra. Apa saja faktor penyebab penyakit...

KTM Seri 390 Adventure Sudah Mulai Dikirim ke Konsumen

KTM Seri 390 Adventure yang belum lama ini diluncurkan kini sudah mulai didistribusikan di seluruh Indonesia dengan 2 varian warna yaitu putih dan orange. Melalui...