Sejarah Singkat Royal Enfield Flying Flea, Heroiknya Si Kutu Perang!

Royal Enfield memiliki peran penting dalam Perang Dunia Kedua lho Sobat Zonbie. Tepatnya saat produsen asal Inggris ini memproduksi salah satu motor paling berjasa bagi pasukan Inggris, yakni RE/WD 125, atau yang dikenal sebagai Flying Flea (Kutu Terbang).

Bukan tanpa sebab, Flying Flea menjadi melegenda, apalagi hingga dibuat replikanya saat ini, Classic 500 Pegasus. Pasalnya, motor bermesin 2-tak 125cc yang dipakai oleh pasukan terjun payung Inggris untuk menggempur garis pertahanan musuh pada Perang Dunia Kedua, termasuk operasi D-Day dan Arnhem.

Dalam perang dunia kedua, puluhan dari ribuan sepeda motor Royal Enfield dikirim ke hampir seluruh area konflik peperangan. Namun hanya Flying Flea yang sanggup dijatuhkan hingga ke garis belakang pertahanan musuh oleh para pasukan terjun payung.

Berkat citra dan ceritanya, Departemen Peperangan Inggris pun memesan lebih dari 4,000 unit sepeda motor Royal Enfield. Sederhana, kuat dan tangguh, Flying Flea diterjunkan sebagai mesin perang garis depan sebagai aset sangat berharga bagi tentara elit dari resimen terjun payung yang ketika itu baru dibentuk, sepeda motor tersebut dijatuhkan dengan parasut dalam alat pelindung khusus atau dibawa dengan pesawat tempur Horsa.

RE/WD 125 (kiri) Diberi Pelindung Sebelum Diturunkan Dengan Terjun Payung Dari Pesawat

Di daratan, sepeda motor tersebut digunakan untuk pengintaian, komunikasi dan sebagai alat membawa para tentara ke dalam peperangan.

Sepeda motor Royal Enfield berbodi kompak dan serba bisa membuktikan ketangguhannya saat Operasi Market Garden pada September 1944, operasi udara terbesar dalam sejarah.

Seorang sekutu pemberani mencoba untuk memperpendek peperangan dengan menyusup ke wilayah Jerman melalui Belanda melewati kontak senjata di beberapa jembatan dan berpuncak pada pertempuran di Arnhem dimana pasukan terjun payung terkepung dan kalah jumlah melawan divisi tank Jerman selama 7 hari bertahan.

Selanjutnya…

Comments
Shares