Sejarah Singkat Sasis Trellis Ducati, Berawal Dari Tukang Ledeng

Jika menyebut motor balap, terutama superbike, mungkin Sobat Zonbie bakal berpikir mengenai motor full fairing dengan sasis twin spar, atau kerap dikenal awam dengan Deltabox (ini merek sasis Yamaha lho Sob). Tapi ini nggak berlaku buat Ducati.

Sudah sejak lama, pabrikan asal Italia tersebut konsisten memakai sasis trellis, atau tubular Sobat Zonbie. Tentu bukan alasan kenapa sasis trellis Ducati kemudian menjadi andalan di semua line up produk mereka saat ini, termasuk di varian-varian superbike.

Sasis trellis Ducati sendiri dikembangkan oleh insinyur Massimo Tamburini, pria jenius di balik Bimota dan Cagiva. Livio Lodi, Direktur Ducati Museum menjelaskan jika keluarga Tamburini memiliki bisnis di jasa ledeng.

Loading...


Saat ada motor dari keluarga mereka yang mengalami kerusakan di bagian sasisnya. Mereka memperbaikinya dengan material dan kemampuan yang mereka kuasai, yakni dengan pipa. Sehingga sejak lama Tamburini mengetahui seluk beluk motor bersasis pipa.

Dan kebetulan, Ducati saat itu memiliki mesin motor L-Twin 90 derajat. Sehingga Tamburini merancang sasis berbahan pipa besi dengan mengandalkan empat pipa yang disambung pada bagian komstir.

Loading...


Selain itu, untuk memperkuat rancangannya, dipasang pula palang dibagian tengah sasis secara diagonal yang mirip rancangan jembatan. Rancangan sasis itulah yang jadi pakem pada hampir semua varian Ducati.

Saat itu, Ducati mengandalkan sasis trellis karena keefektifan dan fleksibilitasnya. Tapi kelemahannya, terutama di tikungan yang dianggap kalah kaku dibanding produk-produk Jepang. Hasilnya secara handling, motor Ducati menjadi lebih liar.

Untuk itu, di tahun 2009 Ducati mengganti sasis trellis mereka di ajang MotoGP menjadi sasis karbon fiber. Diikuti superbike Panigale pada 2011 yang mengandalkan model monokok untuk mengganti frame trellis dari varian Ducati 1198.

Loading...